Ketika dua orang Opsir Bala Keselamatan dari Belanda, yaitu Kapten Jacob Gerrit Brower dan Ensigh Adolf van Emmerik tiba dengan Kapal uap Soerabaja di Tanjung Priuk, Batavia (Jakarta) pada tanggal 24 November 1894, mereka tidak pernah membayangkan bahwa pada tahun 2017, akan terjadi pertumbuhan luar biasa yang menggetarkan terhadap Bala Keselamatan yang mereka bangun. Bala yang telah bertumbuh dengan hampir 40.000 prajurit dewasa dan 388 korps dan posluar yang tersebar di lebih dari 20 provinsi, didukung oleh lebih 600 opsir aktif dan pelayanan sosial yang meliputi panti asuhan anak, rumah sakit, sekolah, klinik dan panti werda usia.

Ini adalah pekerjaan Allah, dan kita menaikan pujian syukur kepada-Nya!

Hari ini kita patut memberikan penghormatan dan terima kasih yang besar atas iman dan semangat merintis para prajurit pendahulu yang telah datang ke Indonesia setelah 29 tahun Bala Keselamatan secara resmi dimulai di London pada tahun 1865 oleh pembangun Bala Keselamatan William dan Catherine Booth.

Kapten Brouwer dan Ensign van Emmerik mendapatkan nasihat dari Gubernur-Jenderal van de Wijck di istana Bogor pada tahun 1894 untuk memulai pekerjaan mereka di Jawa Tengah, yang kemudian mereka mulai lakukan di Desa Sapuran, Purworejo dan sekitarnya.

Pada awalnya pekerjaan yang mereka lakukan terkesan lambat dan sulit, namun kemudian semakin berkembang hingga mencapai provinsi-provinsi lain dengan Sulawesi Tengah menjadi fokus utama.

Pelayanan di Sulawesi dimulai pada tahun 1913 atas perintah dari pengusaha Belanda di Jawa yang merasa bahwa pekerjaan Bala Keselamatan akan menolong membawa perdamaian bagi suku-suku di pedalaman dan daerah-daerah pegunungan yang kala itu masih sering berperang satu dengan yang lainnya.

Seorang opsir perintis dari Inggris, yaitu Kapten Leonard Woodward, sangat dihormati oleh penduduk setempat di Sulawesi Tengah oleh karena pelayanannya yang penuh kepedulian. Woodward diberi nama kehormatan oleh penduduk setempat sebagai Tua Janggo, atau Tua Jangku yang berarti “Kakek Berjanggut”. Mulanya ia memulai pelayanannya di daerah pedalaman, belajar bahasa setempat dan menyediakan bantuan obat-obatan semampu yang bisa dia lakukan. Itu terjadi empat tahun sebelum Woodward menahbiskan prajuritnya yang pertama.

Woodward dan istrinya kemudian ditangkap oleh tentara Jepang selama masa Perang Dunia II, masa yang akan selalu dikenang oleh para Prajurit Bala Keselamatan yang selamat sebagai periode penuh kesengsaraan.

Pada bulan September 1917, bangunan Kantor Pusat Teritorial baru didirikan di Kota Bandung. Gedung tersebut sampai hari ini masih dipergunakan dan kami akan merayakan seabad gedung tersebut dengan acara khusus.

Sejak awal sejarah Bala Keselamatan di Indonesia telah diketahui bahwa pelayanan sosial dan penginjilan perlu dilakukan beriringan untuk membangun kepedulian atas kebutuhan sesama. Hal ini terlihat dari moto Bala Keselamatan, “Hati Kepada Allah, Tangan Terulur Kepada Sesama.”

Pengembangan program pendidikan dan kesehatan dilakukan berbarengan dengan semangat yang besar untuk melakukan penginjilan. Pengembangan program sosial menjadi kunci strategis dalam pertumbuhan dari gerakan Kristen yang relative baru dan belum banyak dikenal secara luas pada masa itu. Bala Keselamatan di Indonesia aktif dalam program transmigrasi, membantu relokasi keluarga-keluarga yang dipindahkan keluar Jawa dan mendapat lahan pertanian di pulau-pulau lain.

Dengan bertumbuhnya pelayanan kesehatan, maka beberapa rumah sakit dan akademi keperawatan mulai didirikan. Sekolah juga dibangun di banyak tempat. Pelayanan tanggap darurat dilakukan untuk masyarakat yang mendapatkan musibah bencana alam seperti gempa bumi, banjir, gunung meletus dan tsunami.

Saya bersyukur kepada Tuhan melihat Bala Keselamatan Teritorial Indonesia terus bertumbuh dan berkembang; baik secara jumlah dan dalam pelayanannya kepada masyarakat: Jumlah prajurit terus bertumbuh.

Banyak dari rumah sakit kita telah memperoleh akreditasi dari pemerintah dan telah meningkatkan fasilitas dan standard pelayanan mereka.

Kajian terhadap panti-panti asuhan telah selesai dan telah diimplementasikan secara bertahap. Ada lebih dari lima puluh kadet di pusdiklat Bala Keselamatan Jakarta menyiapkan diri mereka menjadi opsir-opsir masa depan Bala Keselamatan.

Territorial Indonesia mengalami peningkatan dalam hal keuangan, menjadi teritori mandiri secara operasional dari bantuan KPI pada tahun 2016. Kita mampu memberikan bantuan kepada para opsir yang melayani di tempat-tempat dengan kondisi keuangan yang memprihatinkan.

Beberapa Pos Luar baru-baru ini telah dinaikkan statusnya menjadi korps. Pada tahun 2017, yayasan baru telah didirikan untuk mengembangkan pelayanan sekolah-sekolah kita, termasuk pelatihan bagi para guru dan peningkatan fasilitas sekolah.

Sering kali dikatakan bahwa generasi kita “berdiri di atas bahu raksasa”. Warisan berharga yang kita dapatkan para pendahulu dan perintis kita menjadi milik kita sekarang, dan kita dipercaya oleh Tuhan untuk melanjutkan pelayanan ini dan meneruskannya kapada generasi yang akan datang.

Saya berdoa kiranya generasi masa sekarang dari prajurit dan khususnya orang muda tidak akan kehilangan visi dan gairah yang dimiliki oleh para perintis Bala Keselamatan di Indonesia.

Yesus hari ini memanggil kita “Pergilah keseluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15).

Kiranya Tuhan memberkati dan menguatkan tugas ini.

 

Peter Walker

Komisioner

Komandan Teritorial

 

Sumber: Berita Keselamatan, Edisi November 2017